Showing posts with label Seribu Penghargaan. Show all posts
Showing posts with label Seribu Penghargaan. Show all posts

Thursday, May 21, 2015

DOWNGRADE BOLT ; Mengatasi Modem E5372 Yang Terkunci Lagi Karena Terupdate

Menyambung tutorial sebelumnya yang berjudul Cara Unlock Modem Bolt, kurang lengkap rasanya tanpa disertai dengan artikel yang satu ini. Sebab  meski modem berhasil di unlock bukan berarti tidak akan bisa terkunci kembali. Dalam hal ini Modem bolt bisa terkunci lagi karena melakukan update sistem yang dilakukan tanpa sengaja ketika modem terkoneksi dengan internet. Untuk di ketahui, pasca unlock, Bolt akan rajin menawarkan pilihan untuk mengupdate setiap kali modem digunakan. Ini yang mesti di waspadai hehehe.

Masalahnya kita cuma mengetahui bahwa yang namanya update  adalah pembaharuan level system dengan tujuan  memaksimalkan kemampuan dalam hal ini adalah modem Bolt.  Namun untuk masalah satu  ini, pilihan untuk mengupdate sama saja dengan usaha bunuh diri hehehe. Sebagai mana aplikasi tidak sah lainnya, mengupdate adalah sesuatu yang paling di hindari. karena yang didapatkan bukannya kemudahan malah langsung di blaklist. Mengupdate Bolt pada kasus ini akan membuat sistem kembali default dimana modem kembali terkunci dan tidak bisa digunakan oleh sembarang kartu selain bolt sendiri.

Permasalahan lainnya adalah, ketidak telitian saat membaca saran untuk mengupdatenya. Seperti yang saya alami, belum juga sehari saya pakai, modem bolt yang telah saya unlock tanpa sengaja terupdate gara gara saya salah tekan tombol.  Ada dua tombol yang mesti diperhatikan yakni, tombol menu untuk menolak dan tombol power untuk menerima atau setuju. Dan jika terupdate, proses unlocknya akan lebih susah sebab firmaware yang kita pakai untuk mengunlock sebelumnya tidak bisa terpakai lagi, karena terbaca sebagai firmware kadaluarsa (versi bawah). Atau bisa juga file updatenya sudah dinaikan tingkat proteksinya agar firmware unlock tersebut tidak bisa dipakai lagi. inilah permasalahan utamanya hehehe.

Solusinya adalah dengan cara mendowngrade system kembali, tapi inipun sedikit ribet, karena ini tidak semudah mengupgrade sistem yang tinggal klik saja dari tombol modem. Ada trik trik tertentu yang digunakan agar proses downgrade nya bisa berjalan. dan pada akhirnya kita bisa kembali mengunlock modem bolt tersebut. 

Sebelum saya menemukan solusi ini, saya kesulitan menemukan tutorial yang pas dengan kasus yang saya alami ini hehehe. Kasusnya adalah modem telah di unlock, namun terkunci kembali karena terupdate hehe. Saya browsing kesana kemari namun tidak menemukan tutorial yang pas, dan sampai akhirnya saya menemukan artikel ini https://downgrademodem.wordpress.com/2015/01/24/cara-downgrade-modem-bolt-huawei-e5372/

Meski di artikel tersebut jelas jelas disebutkan bahwa tutorialnya hanya untuk downgrade saja, bukan untuk yang lain, tapi saya yakin memang ini salah satu cara pertama agar modem kembali bisa di unlock.

Caranya sebagai berikut :
Perlengkapan yang dibutuhkan adalah :
– Tool Huawei Flasher
– File Firmware Pancingan
– File Downgrade (Firmware 21.270.11.00.1151)  TAPI Jika kalian masih menyimpan file yg digunakan untuk mengUNLOCK Bolt sebelumnya, file ini tidak perlu di pakai, sebab tujuan kita dongrade bukan untuk menurunkan versi tapi sebagai trik supaya modem bolt bisa menjalani proses pemasangan system yang telah terunlock.  Tapi gunakan langsung firmware yang ini E5372s.FwIndo.21.271.11.00.1151. agar tidak bekerja dua kali hehehe.

Adapun proses kerjanya adalah :
  1. Buka dan jalankan Tool Huawei Flasher v1.6
  2. instal driver modem jika belum terpasang
  3. Sebelum modem terkoneksi dengan computer, pastikan modem dalam status “FORCE DOWNLOAD”,  (tekan power + menu sampai muncul tulisan “force Download”, dan cepat tekan lagi menu sampai keluar gambar panah besar ke atas.
  4. Lihat pada “device Manager” di port berapa modem  tersebut nyangkut heheeh
  5. Edit dengan di masuk ke folder tool Huawei Flasher untuk mengedit atau mengganti notepad file “ports.ini” dengan port COM di device manager
  6. Pada Tool Huawei Flasher  klik “Select Firmware” dan klik “Parse From HMF”
  7. cari file “E5372_Update_21.270.11.00.1151.hmf” di folder E5372_Update_21.270.11.00.1151 (Pancingan), ceklist semua bin yang sebelah kanan.
  8. Klik “Flash Modem” dan  “Resurrect Mode” dan klik “Ok” tunggu hingga selesai
  9. karena system yg dimasukan sifatnya pancingan, maka dalam prosesnya statusnya akan “FAIL”  dan BOOTLOOP.
  10. CABUT dan Matikan modemnya, lalu masuk ke “Force Download” lagi
  11. Colok PC dan Flash dengan file “E5372_Update_21.270.11.00.1151.exe” (klik kanan “Run as administrator”), atau flash dengan file E5372s.FwIndo.21.271.11.00.1151 (file unlock yg digunakan sebelum terupdate (disarankan hehe).
Demikian tutorial singkat ini, dan untuk lebih memahami lagi mesti menggunakan gambar, dan saya persilahkan untuk melihat gambarnya pada blog sumber yang saya sebut di atas, sekian dan semoga bermanfaat..!

Saturday, March 14, 2015

Transaksi Online Gampang-Gampang Susah

Sekarang ini transaksi jual beli tidak mesti harus berada di satu tempat tertentu, transaksi bahkan bisa terjadi  tanpa saling mengenal atau bertatap muka. Inilah salah satu manfaat lain dari keberadaan internet. masalah kecocokan barang dan kesepakat soal harga malah terasa lebih cepat jika dibandingkan dengan kebiasaan yang terjadi di pasar pada umumya. Beberapa transaksi online yang pernah saya lakukan semua berjalan lancar, baik itu transaksi barang yang berupa komponen elektrik, buku, mesin tetas , dan sebagainya. Alhamdulillah saya tidak pernah menemui kesulitan yang berarti terlebih lagi sampai menjadi korban penipuan seperti yang sering kita baca dan lihat di televisi.

Sebenarnya tidak sulit untuk membedakan mana penjual yang benar dan mana penjual yang menipu. Dua hal yang harus menjadi perhatian bagi pembeli dalam menilai kapabilitas penjual, yaitu alamat domain yang digunakan, apakah berbayar atau gratis.  Dan kedua, tentunya dengan melihat lalu lintas interaksi dan transaksi yang ada dalam web tersebut. Kasus transaksi fiktif terjadi karena ketidak pahaman pembeli (pengguna internet), disamping itu alasan lain guna mengindari penipuan yakni jangan mudah tergoda dengan harga barang yang jauh dibawah harga pasar. Perihal harga yang terlalu murah adalah  juga salah satu modus penipuan yang kini marak terjadi. Kita tentu pernah mendengar kasus dg modus "penipuan bertahap" (istilah penulis). Barang murah dan order pertama memang benar-benar dikirim dengan harapan pada kesempatan berikutnya pembeli berani mengorder dengan jumlah yang berkali kali lipat dan akhirnya barang kemudian tidak pernah terkirim lagi.

Dibawah ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman yang sedikit agak berbeda sebagai tambahan informasi tentang lika liku jual beli online. Ada dua kasus yang terjadi, tapi saya akan share kasus yang pertama saja, sebab kasus yang kedua sampai tulisan ini dimuat masih belum selesai, tetapi bukan karena masalah belum selesainya, tapi karena sifat kasusnya yang tidak begitu greget dan tidak serumit kasus yang pertama hehehe.

Diawal Februari yang lalu, seseorang kawan dumai menghubungi dan mengabarkan bahwa “murid”nya akan mengirim (lagi) buku sebanyak satu paket, dan saya diminta tolong untuk menghandlenya. Untuk diketahui,  dalam setiap transaksi pembelian kadang sampai melibatkan empat orang sesuai dengan peran masing-masing. Ada yang berperan sebagai donatur, ada yang berperan sebagai tukang belanja, ada sebagai penerima alias ketua suku, dan saya kebagian tugas yang agak bergengsi, yakni dipercaya sebagai pengambil keputusan guna menentukan buku mana yang mesti dipilih (pakar buku - githu lhooo).

Dan Alhamdulillah meski tanpa ada pemberitahuan kepada pihak penerima, semua buku yang dikirim sesuai dengan dengan minat dan kebutuhan penerima. Bahkan (saya tahu) dalam hati beliau dengan tulus memuji saya sebagai ahli psikologi, karena meski tidak saling kenal namun sangat jitu membaca minat dan selera seseorang. Dan yang lebih penting  adalah menghindari buku ganda yang mungkin sudah ada di perpustakaan ketua suku. Dan ini bisa saja terjadi sebab sifat pengirimannya adalah SHOCK AND SURPRISE alias spekulatif.

Semua berjalan baik sampai pada pengiriman buku yang cukup kontroversial, dimana saya kemudian mengundurkan diri secara terhormat dalam kegiatan proyek rahasia tersebut. Tetapi apa hendak dikata, ternyata pengunduran diri saya berdampak besar, dan sebagaimana diatas akhirnya beliau menelpon saya untuk mengatasi masalah yang rumit ini. Ya saya juga merasa bahwa tiada seseorang yang bisa mengatasi hal seperti ini kecuali orang orang yang memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi di bidangnya.

Tanpa menunda - nunda waktu sebagaimana motto saya, jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah..? eh maaf, salah pasang , maksudnya kalo bisa cepat mengapa mesti di perlambat? Saya langsung berkoodinasi dengan sang donatur, tetapi jawabannya malah buku memang belum dibeli alias belum ada transaksi. Lho terus apa masalahnya? Ooh saya baru paham kalo saya sebenarnya diminta untuk kembali bergabung seperti sedia kala. Tetapi kemudian oleh pemilik dana dikatakan telah menyerahkan semua urusan order kepada assisten saya. ini artinya saya tidak perlu sibuk lagi, sebab saya tahu benar semua akan baik-baik saja karena si assisten sudah terlatih sebelumnya (berkat didikan saya tentunya), terlebih lagi dia adalah tokoh inspirator dari proyek rahasia ini, maka sekali lagi tidak ada alasan bagi saya kali ini untuk tidak memberi kepercayaan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab, dan diawal kisah semua berjalan normal.

Memasuki hari hari berikutnya, saya tidak pernah tahu seperti apa perkembangannya, meski kadang informasi sesekali masuk  tentang proses pengiriman yang tertunda. Suatu hal yang memang sering terjadi dan itu wajar bagi saya, tetapi tidak bagi donatur dan terutama sang assisten. Alasannya sederhana, sebab dia adalah penanggung jawab yang tentunya memiliki beban tersendiri, dan alasan lainnya, tentu saja dia ingin terlihat pintar di mata saya yang adalah mentornya.

fakto faktor semacam ini yang mungkin saja menjadikannya tidak sabaran dan langsung melabrak sang penjual. Assisten tidak mau tahu tentang pembelaan diri penjual yang menyebutkan  musibah kematian dan banjir jakarta adalah alasan keterlambatan pengiriman barang. Dan entah apalagi ceritanya, karena saya pun hanya sambil lalu mendengarnya karena seperti  yang saya bilang semuanya masih pada tarap yang wajar saja. Dan saya berpikir bahwa buku sudah dikirim dan kini berada di biro jasa pengiriman barang. Saat itu sedikitpun saya tidak menyadari bahwa keributan besar sudah pecah antara assisten dan si penjual.

Beberapa hari kemudian pihak pembeli mengecek kembali, (seharusnya mengecek pada Jasa Pengirim, bukan pada pihak toko lagi), pihak toko kembali dengan jawaban yang sama, barang tertunda karena banjir lagi, dan kali ini memberi informasi nama sang supir (kurir) yang mengantar. Semakin penasaran saat di hubungi untuk di konfrontir, HP sang supir tidak aktif atau dihari berikutnya aktif namun tidak menanggapi.. Agak aneh memang karena dalam hal ini si penjual selalu "menjual" nama dan no HP Sopir, bukannya mengarahkan pembeli untuk menghubungi kantor pengiriman jasa tersebut. Sebab sudah jelas bahwa situasinya menundukan bahwa pihak yang bertanggung jawab bukan lagi toko, melainkan jasa pengiriman, dan lazimnya dari jasa pengiriman inilah kita mempeoleh informasi tentang status barang termasuk juga informasi tentang si supir.

Ada hal yang terlupakan disini, yaitu peran resi pengiriman yang tidak dimanfaatkan secara optimal oleh assisten untuk lebih memperjelas status barang yang  kini entah dimana. Inilah yang terjadi pada minggu-mingu pertama pengiriman, dimana pihak pembeli hanya bisa jengkel dan tidak bisa berbuat apa-apa saat penjual melempar tanggung jawab kepada sang supir yang sibuk dengan banjir Jakarta. Terlihat jelas, bahwa tidak ada peran dari pihak jasa pengiriman barang, dan saya tidak tahu alasannya, mengapa pembeli tidak berpikir kearah sana, setidaknya menghubungi pihak yang resmi (kantor, bukan supir).

Pada minggu berikutnya, kembali jawaban dari penjual masih mengambang dan tarik ulur, maka karena rasa gengsi dan tanggung jawab, sang assisten kini benar-benar murka. Dengan membawa embel -embel atas nama hukum, assisten  kembali melabrak dengan berbagai pasal tuduhan. Menurutnya, Penjual  terbukti dengan meyakinkan telah melanggar pasal 212 hukum perdata dan dagang yang berbunyi bahwa pembeli adalah raja. Penjual  mengabaikan hak pembeli untuk bertanya dan dilayani. Penjual secara umum telah melakukan pelanggaran etika dan propesi alias wanprestasi dan pasal pasal berlapis lainnya.

Tidak mau kalah, si penjual membela diri dengan berlindung pada aturan pasal 007 yang menyebutkan bahwa Penjual tidak bertanggung jawab dengan keterlambatan yang diakibatkan oleh musibah atau bencana alam atau keadaan darurat lainny, alias Emang Gue Pikirin..? Genderang perang kini benar benar sudah mulai ditabuh. Di luar dugaan, gertakan sang asissten ternyata disambut dengan gagah berani oleh pihak penjual.

Melihat perkembangan terakhir yang tidak kondusif dan bisa merugikan pembeli, mau tidak mau saya yang awalnya cuma penonton akhirnya harus ikut melibatkan diri. Jiwa ksatria dan insting detektif saya terpanggil untuk menyelesaikan kasus aneh ini. Jika sebelumnya saya hanya mendengar informasi sepintas lalu, kini hal pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan informasi yang resmi terutama dari pihak pembeli. Semua informasi yang terkumpul memang menunjukan indikasi ketidak beresan (Perofesionalisme) penjual, mulai dari alasan kematian, banjir dan yang fatal adalah data berupa resi palsu dimana setelah di cek tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Meski saya lebih cendrung mendukung kesimpulan bahwa ini adalah penipuan, tapi jiwa bijak saya menuntut untuk tidak menunjukannya sementara waktu, karena ini belum final. Saya bergerak cepat agar tidak menimbulkan kepanikan yang bisa menjurus kearah anarkis. Kepada pihak pembeli saya meminta resi, dan dari copian sms  kedua  pihak makin menguatkan dugan penipuan. Dalam daftar pengiriman barang, semua pembeli lainnya menggunakan jasa pengiriman yang familiar seperti  Tiki dan Jne kecuali pada barang pesanan assisten. Dugaan saya,  daftar itu sengaja diperlihatkan juga sebagai  rekayasa  agar assisten kesulitan mengakses atau melacak barang kami tersebut. Atau bisa juga Daftar kiriman barang tersebut guna mengelabui modus penipuan yang sedang terjadi. Bagaimanapun juga,  jasa pengiriman yang digunakannya terlalu asing dibanding dengan daftar pembeli lainnya. Situasinya semakin parah ketika saya cek, ternyata barang dengan no resi sekian sudah diterima oleh orang yang bernama Syafii , itupun tidak ada keterangan detail tentang barang yang diterima oleh orang yang bernama Syafii tersebut. Saya menghubungi penerima dan menjawab buku belum di terima dan tidak ada yang bernama Syafii. Ketika assisten mempertanyakan masalah Resi yang aneh tersebut, jawaban yang diterima malah sungguh yang mendengarnya jadi terharu, yakni bahwa resi itu adalah hasil pekerjaan iseng salah satu karyawannya yang paling lucu dikantor tersebut. Beberapa buah jawaban yang menunjukan bahwa penjual memang benar-benar gagah berani dalam menyambut tantangan perang sang senopati assisten.

Ditempat lain, ketua suku mencoba menghubungi si supir, dan dijawab bahwa dia kini dalam perjalanan balik lagi sebab alamat ketua suku tidak jelas. Lagi lagi sebuah alasan yang bikin gregetan, sebab siapapun tahu kalau sang kepala suku adalah salah satu selebritis di kota tersebut, tentunya semua orang mengenalnya, baik rakyat jelata maupun kaum bangsawan. semakin tidak bisa di percaya jika melihat  jarak tempuh yang sangat jauh tapi semudah itu si supir balik kanan dengan alasan alamat palsu. Dan Supir tidak mau kalah dengan si penjual, si supir dengan tenang menjanjikan bahwa dia akan kembali selasa mendatang (empat hari lagi). Saat itu si supir sepertinya lupa menghubungi penerima saat kebingungan mencari alamat, atau mungkin gak ada stok pulsa di HP hehehe.

Sementara ketua suku sibuk dengan supir, assisten perang tanding dengan penjual, maka saya lebih fokus pada tugas saya sebagai detektif dumay, yakni memeriksa web-web terkait termasuk juga memeriksa ulang resi kembali.  Dan hasilnya lebih lucu lagi, kali ini penerima bukan Syafii namun sudah bermetamorfosis menjadi Chandra. dan semakin tidak bersemangat setelah saya perhatikan lagi ternyata website jasa pengirimnya juga gratis. Tetapi itu tidak lama, sebab malamnya lagi ada secercah harapan yang timbul. Saat  memeriksa web toko buku, saya tidak menjumpai ada yang aneh di web tersebut, malah cukup eksklusif, dan yang lebih penting lagi adalah domainnya berbayar.

Semakin saya memeriksa, semakin saya yakin, kalo ini bukan penipuan tapi hanya kesalahan teknis saja. Saya akhirnya menelpon penjual dengan bahasa yang bijak dan di lembut-lembutkan. Saya bertanya apakah ada order buku dengan judul xxx, dan sebelum dia sempat menjawab, saya mendahului lagi dengan kalimat teduh lainnya; " Begini pak, saya kuatir ada yang mengatas namakan toko anda untuk melakukan kejahatan penipuan..dst. Bak gayung bersambut, pihak penjual dengan ramah dan meyakinkan mengatakan bahwa memang benar ada order buku dengan judul itu, dan menyebutkan beberapa alasan yang membuat pengiriman tertunda. Dan saat saya meminta resi, dengan cepat dia memberikan, dan saya langsung mengecek dan lega karena hasilnya kini sesuai dengan harapan. Meski masih penasaran, saya tidak perlu banyak bertanya lagi, apalagi sampai mengungkit keanehan-keanehan yang terjadi. Satu hal yang pasti saat itu feeling saya mengatakan bahwa buku pasti akan terkirim.

Malamnya, untuk lebih meyakinkan lagi, kali ini saya memeriksa web jasa pengirim barang yang sangat meragukan, terlebih lagi di menu utama tertulis kalimat besar yang berbunyi peringatan seperti ini : "Kami tidak bertanggung jawab dengan complain barang yang mengatas namakan jasa ini...dst" Intinya mereka mengakui bahwa sering terjadi kasus penipuan yang membawa bawa nama web mereka. Dan dalam kondisi yang rumit begini , pemberitahuan semacam itu malah lebih menyakinkan kami, jika semua yang terlibat disini sebenarnya hanya satu orang saja dengan peran bermacam, sebagai penjual, sopir dan jasa pengiriman.

Tetapi ternyata semua itu salah, Disaat saat terakhir saya menemukan ternyata website pengirim barang ada dua (kembar). Satu berbayar dan satu gratis. Yang gratis mungkin bertujuan untuk promosi saja dan data data yang tetap bersumber dari web induk meski diakses melalui web gratis tersebut. Ini baru saya tahu setelah saya perhatikan proses pengumpulan data oleh mesin pencarian google. Tentu saja ini  menggembirakan dan menambah poin positif meski saya sangat penasaran dengan pelayannan toko yang ala kadarnya itu. Bukan alakadar lagi, tapi benar benar amburadul dan semau gue terutama di bagian informasi khususnya dalam bertanya jawab. Ini sangat disayangkan jika melihat keberadaan dan penampilan website  yang saya yakin dibangun dengan kerja keras hehehe.

Tapi saya punya analisa tersendiri dengan keanehan tersebut, dimana saya menganggap , bahwa kerumitan ini bermula dari ketidak jujuran penjual yang mengaku barang telah dikirim, padahal yang sebenarnya barang belum dikirim atau sudah sangat terlambat untuk dikirim. hal hal seperti resi atau  sopir adalah semacam alibi untuk mengulur waktu, tapi akhirnya tidak sesuai rencana karena pihak pembeli ternyata tidak pasif menerima informasi sebagaimana yang diharapkan oleh penjual. Kesimpulan ini yang membuat saya malam itu sangat yakin bahwa ini bukan penipuan. Akhirnya pihak pertama yang saya hubungi saat itu, adalah assisten dengan tujuan untuk tidak melanjutkan aksi ceramahnya, baru setelah itu saya menghubungi donatur untuk meyakinkan bahwa dalam jangka seminggu buku pasti akan sampai meski ada  banyak yang terlihat tidak beres. Bagaimanapun juga saya memaklumi kekalutan hatinya, sebab buku itu senilai dangan gaji saya sebulan hehehe) . Dan akhirnya benar juga, hari selasa pagi, saya ditelpon oleh ketua suku bahwa buku sudah diterima dengan selamat, tepat sebagaimana janji si supir misterius tersebut. Alhamdulillah, pengalaman yang sangat berarti guna mengingatkan kembali bahwa pembeli dan penjual juga manusia.

Sekian dan semoga bermanfaat!!!

Saturday, February 21, 2015

Pengalaman Membeli Telur Tetas Antar Provinsi

Tulisan ini hanya untuk share pengalaman saja untuk para penghobi ayam,  khususnya mereka yang memiliki keinginan untuk membeli telur tetas antar pulau atau provinsi.  Tujuannya bukan untuk mempengaruhi para calon konsumen terlebih lagi sampai merugikan para penjual telur tetas. Karena apa yang akan saya tulis ini bisa saja hanya pengalaman yang sifatnya kebetulan saja. Jadi sekali lagi saya tidak ingin gara gara tulisan ini para penghobi ayam yang kebetulan ingin membeli telur tetas antar pulau mengurungkan niatnya, karena bagaimana pun ini hanya pengalaman saja bukan sebuah hukum yang sifatnya pasti hehhee

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk membeli telur tetas yang berasal dari pulau jawa bagian barat. Telur yang saya beli adalah telur ayam cemani sebanyak  lima butir.  Pelayanannya oke dan barang sampai dengan selamat tanpa ada satupun telur yang pecah. Setelah saya bersihkan secukupnya, saya langsung masukan kemesin penetas. 

Tiga hari kemudian sesuai dengan prosedur standar, saya meneropong telurnya dan melihat ada ciri ciri sebagai telur yang tidak akan menetas. Dua telur pertama terlihat bening tanpa ada tanda benih (yang biasanya berupa akar akar merah),  telur yang ketiga berwarna gelap dan keruh atau bisa dibilang hitam (seperti telur yang sdh ditetaskan seminggu sebelumnya), dan  dua yang terakhir meski tidak terlihat jelas tapi saya berharap bahwa yang dua terakhir bisa menetas.

Di hari yang  kesebelas saya memeriksa lagi, dan hasilnya masih sama kecuali yang dua terakhir yang saya sebut masih ada harapan, salah satunya menunjukan ada tanda tanda perkembangan yang signifikan. Akhirnya dua telur yang bening saya keluarkan dan setelah di ceplok masih tetap bersih, semakin membuktikan bahwa kemungkina kedua telur tidak dibuahi oleh pejantan atau mungkin benihnya mati sebelum ditetaskan (saya goreng)

Mendekati hari hari terakhir, telur yang saya sebut hitam malah meledak sendiri, dan kini tinggal dua lagi. Dan Alhamdulilah salah satunya bisa menetas,  jadi dari lima butir telur tersebut Cuma satu yang bisa menetas. Tapi saya senang dan bersyukur karena yang penting, kini saya berani menyimpulkan bahwa telur yang terkirim dari jauh sekalipun masih bisa untuk ditetaskan.

Setelah pengalaman tersebut, dua bulan kemudian saya  membeli telur tetas lagi, kali ini saya memesan lagi tujuh telur dengan tiga jenis yang berbeda. Singkatnya,  barang saya terima tanpa masalah dan malah lebih cepat dari perhitungan saya.  Tetapi begitu membuka box telur, semangat saya sedikit menurun. Bukan karena ada yang pecah tapi karena melihat telur dengan ciri ciri yang saya pernah baca sebagai telur yang tidak bagus untuk ditetaskan. 

Ciri ciri yang saya maksud adalah, pertama cangkang telur kasar dan berkapur, dan yang kedua ada dua telur yang ukurannya melebihi ukuran telur normal, kalo tidak dibilang terlalu besar untuk ukuran ayam tersebut. Malah jika dibandingkan dengan ukuran telur ayam ras, telur ini masih jauh lebih besar lagi, tapi menurut yang saya baca, bahwa ukuran yang terlalu besar ini yang menjadikan telur lantas tidak layak untuk ditetaskan. Dengan harap harap cemas, saya masukan ketujuh telur tersebut  bersamaan dengan beberapa telur ayam ketawa lokal pelengkapnya. Dan singkat ceritanya, percobaan  yang kedua ini hasilnya malah lebih buruk dari yang pertama, yakni semua telur kiriman gagal menetas kecuali semua telur ayam ketawa lokal tersebut.

Demikian pengalaman singkat saya, dan saya masih semangat untuk mendapatkan telur telur tersebut jika melihat dari keyakinan analisa sementara saya, bahwa telur telur tersebut gagal menetas bukan karena factor pengiriman jika diliat dari kemasan yang sangat protektif, melainkan karena factor kualitas telur yang memang dari sana sudah cukup meragukan. Atau mungkin ada satu dan lain hal yang pengetahuan saya tidak sampai kesana.., wallahu ‘alam.

Search