Saturday, February 21, 2015

Pengalaman Membeli Telur Tetas Antar Provinsi

Tulisan ini hanya untuk share pengalaman saja untuk para penghobi ayam,  khususnya mereka yang memiliki keinginan untuk membeli telur tetas antar pulau atau provinsi.  Tujuannya bukan untuk mempengaruhi para calon konsumen terlebih lagi sampai merugikan para penjual telur tetas. Karena apa yang akan saya tulis ini bisa saja hanya pengalaman yang sifatnya kebetulan saja. Jadi sekali lagi saya tidak ingin gara gara tulisan ini para penghobi ayam yang kebetulan ingin membeli telur tetas antar pulau mengurungkan niatnya, karena bagaimana pun ini hanya pengalaman saja bukan sebuah hukum yang sifatnya pasti hehhee

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk membeli telur tetas yang berasal dari pulau jawa bagian barat. Telur yang saya beli adalah telur ayam cemani sebanyak  lima butir.  Pelayanannya oke dan barang sampai dengan selamat tanpa ada satupun telur yang pecah. Setelah saya bersihkan secukupnya, saya langsung masukan kemesin penetas. 

Tiga hari kemudian sesuai dengan prosedur standar, saya meneropong telurnya dan melihat ada ciri ciri sebagai telur yang tidak akan menetas. Dua telur pertama terlihat bening tanpa ada tanda benih (yang biasanya berupa akar akar merah),  telur yang ketiga berwarna gelap dan keruh atau bisa dibilang hitam (seperti telur yang sdh ditetaskan seminggu sebelumnya), dan  dua yang terakhir meski tidak terlihat jelas tapi saya berharap bahwa yang dua terakhir bisa menetas.

Di hari yang  kesebelas saya memeriksa lagi, dan hasilnya masih sama kecuali yang dua terakhir yang saya sebut masih ada harapan, salah satunya menunjukan ada tanda tanda perkembangan yang signifikan. Akhirnya dua telur yang bening saya keluarkan dan setelah di ceplok masih tetap bersih, semakin membuktikan bahwa kemungkina kedua telur tidak dibuahi oleh pejantan atau mungkin benihnya mati sebelum ditetaskan (saya goreng)

Mendekati hari hari terakhir, telur yang saya sebut hitam malah meledak sendiri, dan kini tinggal dua lagi. Dan Alhamdulilah salah satunya bisa menetas,  jadi dari lima butir telur tersebut Cuma satu yang bisa menetas. Tapi saya senang dan bersyukur karena yang penting, kini saya berani menyimpulkan bahwa telur yang terkirim dari jauh sekalipun masih bisa untuk ditetaskan.

Setelah pengalaman tersebut, dua bulan kemudian saya  membeli telur tetas lagi, kali ini saya memesan lagi tujuh telur dengan tiga jenis yang berbeda. Singkatnya,  barang saya terima tanpa masalah dan malah lebih cepat dari perhitungan saya.  Tetapi begitu membuka box telur, semangat saya sedikit menurun. Bukan karena ada yang pecah tapi karena melihat telur dengan ciri ciri yang saya pernah baca sebagai telur yang tidak bagus untuk ditetaskan. 

Ciri ciri yang saya maksud adalah, pertama cangkang telur kasar dan berkapur, dan yang kedua ada dua telur yang ukurannya melebihi ukuran telur normal, kalo tidak dibilang terlalu besar untuk ukuran ayam tersebut. Malah jika dibandingkan dengan ukuran telur ayam ras, telur ini masih jauh lebih besar lagi, tapi menurut yang saya baca, bahwa ukuran yang terlalu besar ini yang menjadikan telur lantas tidak layak untuk ditetaskan. Dengan harap harap cemas, saya masukan ketujuh telur tersebut  bersamaan dengan beberapa telur ayam ketawa lokal pelengkapnya. Dan singkat ceritanya, percobaan  yang kedua ini hasilnya malah lebih buruk dari yang pertama, yakni semua telur kiriman gagal menetas kecuali semua telur ayam ketawa lokal tersebut.

Demikian pengalaman singkat saya, dan saya masih semangat untuk mendapatkan telur telur tersebut jika melihat dari keyakinan analisa sementara saya, bahwa telur telur tersebut gagal menetas bukan karena factor pengiriman jika diliat dari kemasan yang sangat protektif, melainkan karena factor kualitas telur yang memang dari sana sudah cukup meragukan. Atau mungkin ada satu dan lain hal yang pengetahuan saya tidak sampai kesana.., wallahu ‘alam.

Search

Loading...