Saturday, March 14, 2015

Transaksi Online Gampang-Gampang Susah

Sekarang ini transaksi jual beli barang tidak mesti harus berada di satu tempat tertentu, transaksi bahkan bisa terjadi  tanpa saling mengenal atau bertatap muka. inilah salah satu manfaat lain dari keberadaan internet. masalah kecocokan barang dan kesepakat soal harga malah terasa lebih cepat jika dibandingkan dengan kebiasaan yang terjadi di pasar pada umumya. Beberapa transaksi online yang pernah saya lakukan semua berjalan lancar, baik itu transaksi barang yang berupa komponen elektrik, buku, mesin tetas , dan sebagainya. Alhamdulillah saya tidak pernah menemui kesulitan yang berarti terlebih lagi sampai menjadi korban penipuan seperti yang sering kita baca dan lihat di televisi.

Sebenarnya tidak sulit untuk membedakan mana penjual yang benar dan mana penjual yang menipu. Dua hal yang harus menjadi perhatian bagi pembeli dalam menilai kapabilitas penjual, yaitu alamat domain yang digunakan, apakah berbayar atau gratis.  Dan kedua, tentunya dengan melihat lalu lintas interaksi dan transaksi yang ada dalam web tersebut. Kasus transaksi fiktif terjadi karena ketidak pahaman pembeli (pengguna internet), disamping itu alasan lain guna mengindari penipuan yakni jangan mudah tergoda dengan harga barang yang jauh dibawah harga pasar. Perihal harga yang terlalu murah adalah  juga salah satu modus penipuan yang kini marak terjadi. Kita tewntu pernah mendengar kasus dg modus "penipuan bertahap" (istilah penulis). Barang murah dan order pertama memang benar-benar dikirim dengan tujuan pembeli ketagihan, kemudian mengorder dengan jumlah yang berkali kali lipat dan akhirnya barang kemudian tidak pernah terkirim lagi.

Dibawah ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman yang sedikit agak berbeda sebagai tambahan informasi tentang lika liku jual beli online. Ada dua kasus yang terjadi, tapi saya akan share kasus yang pertama saja, sebab kasus yang kedua sampai tulisan ini dimuat masih belum selesai, tetapi bukan karena masalah belum selesainya, tapi karena sifat kasusnya yang tidak begitu greget dan tidak serumit kasus yang pertama hehehe.

Diawal Februari yang lalu, seseorang kawan dumai menghubungi dan mengabarkan bahwa “murid”nya akan mengirim (lagi) buku sebanyak satu paket, dan saya diminta tolong untuk menghandlenya. Untuk diketahui,  dalam setiap transaksi pembelian kadang sampai melibatkan empat orang sesuai dengan peran masing-masing. Ada yang berperan sebagai donatur, ada yang berperan sebagai tukang belanja, ada sebagai penerima alias ketua suku, dan saya kebagian tugas yang agak bergengsi, yakni dipercaya sebagai pengambil keputusan guna menentukan buku mana yang mesti dipilih (pakar buku - githu lhooo).

Dan Alhamdulillah meski tanpa ada pemberitahuan kepada pihak penerima, semua buku yang dikirim sesuai dengan dengan minat dan kebutuhan penerima. Bahkan (saya tahu) dalam hati beliau dengan tulus memuji saya sebagai ahli psikologi, karena meski tidak saling kenal namun sangat jitu membaca minat dan dan selera seseorang. Dan yang lebih penting  adalah menghindari buku ganda yang mungkin sudah ada di perpustakaan ketua suku. Dan ini bisa saja terjadi sebab sifat pengirimannya adalah SHOCK AND SURPRISE alias spekulatif.

Semua berjalan baik sampai pada pengiriman buku yang cukup kontroversial, dimana saya kemudian mengundurkan diri secara terhormat dalam kegiatan proyek rahasia tersebut. Tetapi apa hendak dikata, ternyata pengunduran diri saya berdampak besar, dan sebagaimana diatas akhirnya beliau menelpon saya untuk mengatasi masalah yang rumit ini. Ya saya juga merasa bahwa tiada seseorang yang bisa mengatasi hal seperti ini kecuali orang orang yang memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi di bidangnya.

Tanpa menunda - nunda waktu sebagaimana motto saya, jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah..? eh maaf, salah pasang , maksudnya kalo bisa cepat mengapa mesti di perlambat? Saya langsung berkoodinasi dengan sang donatur, tetapi jawabannya malah buku memang belum dibeli alias belum ada transaksi. Lho terus apa masalahnya? Ooh saya baru paham kalo saya sebenarnya diminta untuk kembali bergabung seperti sedia kala. Tetapi kemudian oleh pemilik dana dikatakan telah menyerahkan semua urusan order kepada assisten saya. ini artinya saya tidak perlu sibuk lagi, sebab saya tahu benar semua akan baik-baik saja karena si assisten sudah terlatih sebelumnya (berkat didikan saya tentunya), terlebih lagi dia adalah tokoh inspirator dari proyek rahasia ini, maka sekali lagi tidak ada alasan bagi saya kali ini untuk tidak memberi kepercayaan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab, dan diawal kisah semua berjalan normal.

Memasuki hari hari berikutnya, saya tidak pernah tahu seperti apa perkembangannya, meski kadang informasi sesekali masuk  tentang proses pengiriman yang tertunda. Suatu hal yang memang sering terjadi dan itu wajar bagi saya, tetapi tidak bagi donatur dan terutama sang assisten. Alasannya sederhana, sebab dia adalah penanggung jawab yang tentunya memiliki beban tersendiri, dan alasan lainnya, tentu saja dia ingin terlihat pintar di mata saya yang adalah mentornya.

fakto faktor semacam ini yang mungkin saja menjadikannya tidak sabaran dan langsung melabrak sang penjual. Assisten tidak mau tahu tentang pembelaan diri penjual yang menyebutkan  musibah kematian dan banjir jakarta adalah alasan keterlambatan pengiriman barang. Dan entah apalagi ceritanya, karena saya pun hanya sambil lalu mendengarnya karena seperti  yang saya bilang semuanya masih pada tarap yang wajar saja. Dan saya berpikir bahwa buku sudah dikirim dan kini berada di biro jasa pengiriman barang. Saat itu sedikitpun saya tidak menyadari bahwa keributan besar sudah pecah antara assisten dan si penjual.

Beberapa hari kemudian pihak pembeli mengecek kembali, (seharusnya mengecek pada Jasa Pengirim, bukan pada pihak toko lagi), pihak toko kembali dengan jawaban yang sama, barang tertunda karena banjir lagi, dan kali ini memberi informasi nama sang supir (kurir) yang mengantar. Semakin penasaran saat di hubungi untuk di konfrontir, HP sang supir tidak aktif atau dihari berikutnya aktif namun tidak menanggapi.. Agak aneh memang karena dalam hal ini si penjual selalu "menjual" nama dan no HP Sopir, bukannya mengarahkan pembeli untuk menghubungi kantor pengiriman jasa tersebut. Sebab sudah jelas bahwa situasinya menundukan bahwa pihak yang bertanggung jawab bukan lagi toko, melainkan jasa pengiriman, dan lazimnya dari jasa pengiriman inilah kita mempeoleh informasi tentang status barang termasuk juga informasi tentang si supir.

Ada hal yang terlupakan disini, yaitu peran resi pengiriman yang tidak dimanfaatkan secara optimal oleh assisten untuk lebih memperjelas status barang yang  kini entah dimana. Inilah yang terjadi pada minggu-mingu pertama pengiriman, dimana pihak pembeli hanya bisa jengkel dan tidak bisa berbuat apa-apa saat penjual melempar tanggung jawab kepada sang supir yang sibuk dengan banjir Jakarta. Terlihat jelas, bahwa tidak ada peran dari pihak jasa pengiriman barang, dan saya tidak tahu alasannya, mengapa pembeli tidak berpikir kearah sana, setidaknya menghubungi pihak yang resmi (kantor, bukan supir).

Pada minggu berikutnya, kembali jawaban dari penjual masih mengambang dan tarik ulur, maka karena rasa gengsi dan tanggung jawab, sang assisten kini benar-benar murka. Dengan membawa embel -embel atas nama hukum, assisten  kembali melabrak dengan berbagai pasal tuduhan. Menurutnya, Penjual  terbukti dengan meyakinkan telah melanggar pasal 212 hukum perdata dan dagang yang berbunyi bahwa pembeli adalah raja. Penjual  mengabaikan hak pembeli untuk bertanya dan dilayani. Penjual secara umum telah melakukan pelanggaran etika dan propesi alias wanprestasi dan pasal pasal berlapis lainnya.

Tidak mau kalah, si penjual membela diri dengan berlindung pada aturan pasal 007 yang menyebutkan bahwa Penjual tidak bertanggung jawab dengan keterlambatan yang diakibatkan oleh musibah atau bencana alam atau keadaan darurat lainny, alias Emang Gue Pikirin..? Genderang perang kini benar benar sudah mulai ditabuh. Di luar dugaan, gertakan sang asissten ternyata disambut dengan gagah berani oleh pihak penjual.

Melihat perkembangan terakhir yang tidak kondusif dan bisa merugikan pembeli, mau tidak mau saya yang awalnya cuma penonton akhirnya harus ikut melibatkan diri. Jiwa ksatria dan insting detektif saya terpanggil untuk menyelesaikan kasus aneh ini. Jika sebelumnya saya hanya mendengar informasi sepintas lalu, kini hal pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan informasi yang resmi terutama dari pihak pembeli. Semua informasi yang terkumpul memang menunjukan indikasi ketidak beresan (Perofesionalisme) penjual, mulai dari alasan kematian, banjir dan yang fatal adalah data berupa resi palsu dimana setelah di cek tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Meski saya lebih cendrung mendukung kesimpulan bahwa ini adalah penipuan, tapi jiwa bijak saya menuntut untuk tidak menunjukannya sementara waktu, karena ini belum final. Saya bergerak cepat agar tidak menimbulkan kepanikan yang bisa menjurus kearah anarkis. Kepada pihak pembeli saya meminta resi, dan dari copian sms  kedua  pihak makin menguatkan dugan penipuan. Dalam daftar pengiriman barang, semua pembeli lainnya menggunakan jasa pengiriman yang familiar seperti  Tiki dan Jne kecuali pada barang pesanan assisten. Dugaan saya,  daftar itu sengaja diperlihatkan juga sebagai  rekayasa  agar assisten kesulitan mengakses atau melacak barang kami tersebut. Atau bisa juga Daftar kiriman barang tersebut guna mengelabui modus penipuan yang sedang terjadi. Bagaimanapun juga,  jasa pengiriman yang digunakannya terlalu asing dibanding dengan daftar pembeli lainnya. Situasinya semakin parah ketika saya cek, ternyata barang dengan no resi sekian sudah diterima oleh orang yang bernama Syafii , itupun tidak ada keterangan detail tentang barang yang diterima oleh orang yang bernama Syafii tersebut. Saya menghubungi penerima dan menjawab buku belum di terima dan tidak ada yang bernama Syafii. Ketika assisten mempertanyakan masalah Resi yang aneh tersebut, jawaban yang diterima malah sungguh yang mendengarnya jadi terharu, yakni bahwa resi itu adalah hasil pekerjaan iseng salah satu karyawannya yang paling lucu dikantor tersebut. Beberapa buah jawaban yang menunjukan bahwa penjual memang benar-benar gagah berani dalam menyambut tantangan perang sang senopati assisten.

Ditempat lain, ketua suku mencoba menghubungi si supir, dan dijawab bahwa dia kini dalam perjalanan balik lagi sebab alamat ketua suku tidak jelas. Lagi lagi sebuah alasan yang bikin gregetan, sebab siapapun tahu kalau sang kepala suku adalah salah satu selebritis di kota tersebut, tentunya semua orang mengenalnya, baik rakyat jelata maupun kaum bangsawan. semakin tidak bisa di percaya jika melihat  jarak tempuh yang sangat jauh tapi semudah itu si supir balik kanan dengan alasan alamat palsu. Dan Supir tidak mau kalah dengan si penjual, si supir dengan tenang menjanjikan bahwa dia akan kembali selasa mendatang (empat hari lagi). Saat itu si supir sepertinya lupa menghubungi penerima saat kebingungan mencari alamat, atau mungkin gak ada stok pulsa di HP hehehe.

Sementara ketua suku sibuk dengan supir, assisten perang tanding dengan penjual, maka saya lebih fokus pada tugas saya sebagai detektif dumay, yakni memeriksa web-web terkait termasuk juga memeriksa ulang resi kembali.  Dan hasilnya lebih lucu lagi, kali ini penerima bukan Syafii namun sudah bermetamorfosis menjadi Chandra. dan semakin tidak bersemangat setelah saya perhatikan lagi ternyata website jasa pengirimnya juga gratis. Tetapi itu tidak lama, sebab malamnya lagi ada secercah harapan yang timbul. Saat  memeriksa web toko buku, saya tidak menjumpai ada yang aneh di web tersebut, malah cukup eksklusif, dan yang lebih penting lagi adalah domainnya berbayar.

Semakin saya memeriksa, semakin saya yakin, kalo ini bukan penipuan tapi hanya kesalahan teknis saja. Saya akhirnya menelpon penjual dengan bahasa yang bijak dan di lembut-lembutkan. Saya bertanya apakah ada order buku dengan judul xxx, dan sebelum dia sempat menjawab, saya mendahului lagi dengan kalimat teduh lainnya; " Begini pak, saya kuatir ada yang mengatas namakan toko anda untuk melakukan kejahatan penipuan..dst. Bak gayung bersambut, pihak penjual dengan ramah dan meyakinkan mengatakan bahwa memang benar ada order buku dengan judul itu, dan menyebutkan beberapa alasan yang membuat pengiriman tertunda. Dan saat saya meminta resi, dengan cepat dia memberikan, dan saya langsung mengecek dan lega karena hasilnya kini sesuai dengan harapan. Meski masih penasaran, saya tidak perlu banyak bertanya lagi, apalagi sampai mengungkit keanehan-keanehan yang terjadi. Satu hal yang pasti saat itu feeling saya mengatakan bahwa buku pasti akan terkirim.

Malamnya, untuk lebih meyakinkan lagi, kali ini saya memeriksa web jasa pengirim barang yang sangat meragukan, terlebih lagi di menu utama tertulis kalimat besar yang berbunyi peringatan seperti ini : "Kami tidak bertanggung jawab dengan complain barang yang mengatas namakan jasa ini...dst" Intinya mereka mengakui bahwa sering terjadi kasus penipuan yang membawa bawa nama web mereka. Dan dalam kondisi yang rumit begini , pemberitahuan semacam itu malah lebih menyakinkan kami, jika semua yang terlibat disini sebenarnya hanya satu orang saja dengan peran bermacam, sebagai penjual, sopir dan jasa pengiriman.

Tetapi ternyata semua itu salah, Disaat saat terakhir saya menemukan ternyata website pengirim barang ada dua (kembar). Satu berbayar dan satu gratis. Yang gratis mungkin bertujuan untuk promosi saja dan data data yang tetap bersumber dari web induk meski diakses melalui web gratis tersebut. Ini baru saya tahu setelah saya perhatikan proses pengumpulan data oleh mesin pencarian google. Tentu saja ini  menggembirakan dan menambah poin positif meski saya sangat penasaran dengan pelayannan toko yang ala kadarnya itu. Bukan alakadar lagi, tapi benar benar amburadul dan semau gue terutama di bagian informasi khususnya dalam bertanya jawab. Ini sangat disayangkan jika melihat keberadaan dan penampilan website  yang saya yakin dibangun dengan kerja keras hehehe.

Tapi saya punya analisa tersendiri dengan keanehan tersebut, dimana saya menganggap , bahwa kerumitan ini bermula dari ketidak jujuran penjual yang mengaku barang telah dikirim, padahal yang sebenarnya barang belum dikirim atau sudah sangat terlambat untuk dikirim. hal hal seperti resi atau  sopir adalah semacam alibi untuk mengulur waktu, tapi akhirnya tidak sesuai rencana karena pihak pembeli ternyata tidak pasif menerima informasi sebagaimana yang diharapkan oleh penjual. Kesimpulan ini yang membuat saya malam itu sangat yakin bahwa ini bukan penipuan. Akhirnya pihak pertama yang saya hubungi saat itu, adalah assisten dengan tujuan untuk tidak melanjutkan aksi ceramahnya, baru setelah itu saya menghubungi donatur untuk meyakinkan bahwa dalam jangka seminggu buku pasti akan sampai meski ada  banyak yang terlihat tidak beres. Bagaimanapun juga saya memaklumi kekalutan hatinya, sebab buku itu senilai dangan gaji saya sebulan hehehe) . Dan akhirnya benar juga, hari selasa pagi, saya ditelpon oleh ketua suku bahwa buku sudah diterima dengan selamat, tepat sebagaimana janji si supir misterius tersebut. Alhamdulillah, pengalaman yang sangat berarti guna mengingatkan kembali bahwa pembeli dan penjual juga manusia.

Sekian dan semoga bermanfaat!!!

Search

Loading...